Sebagai daerah tujuan wisata yang dikunjungi banyak turis, tentunya membawa pengaruh pula terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Bali. Disamping itu arus informasi global yang serba cepat dari berbagai media, menyebabkan pengaruh budaya luar tersebut dapat mendegradasi budaya lokal. Salah satu budaya yang terpengaruh adalah tata cara berbusana masyarakat kita ketika hendak bersembahyang ke Pura. Busana ke Pura haruslah menunjang kekhusyukan kita dalam berdoa. Selain itu, busana ke Pura sesungguhnya juga adalah perlambang kesucian jiwa dan raga orang yang akan bersembahyang. Namun sepertinya kekinian nilai-nilai tersebut seakan pudar.
Tak jarang kita melihat tata cara berbusana ke Pura yang digunakan remaja putri dan ibu-ibu telah melenceng dari norma kesopanan dan kecusian yang menjadi inti kaedah berbusana ke Pura. Baju berbahan brokat yang super tipis berkerawang jarang, berlengan pendek, belahan rendah, hingga kain (kamen) tinggi dengan memperlihatkan lutut pemakainya telah jamak kita lihat.
Fenomena ini memantik kekhawatiran Kepala Kelurahan Pemecutan Ida Bagus Made Purwanasara. Bekerjasama dengan TP PKK Kelurahan Pemecutan serta WHDI Kecamatan Denpasar Barat, pihaknya menyelenggarakan pelatihan tata rias dan busana ke Pura bagi ibu-ibu PKK dan remaja putri di Kelurahan Pemecutan. Kegiatan yang dilaksanakan Minggu (22/6) kemarin ini menghadirkan Ibu Anak Agung Ketut Agung dari Salon Agung (LKP Agung).
Menurut Lurah yang bertugas sejak 2011 ini, tujuan penyelenggaraan kegiatan pelatihan tata rias dan berbusana ke Pura antara lain memberikan pemahaman dan penyadaran kepada masyarakat untuk selalu menempatkan tata krama yang pantas dalam berbusana ke Pura. Remaja putri dan ibu-ibu dapat membedakan busana untuk kegiatan persembahyangan, dengan busana untuk pesta dan kegiatan selain keagamaan. Tujuan selanjutnya ialah untuk memberdayakan masyarakat. Dengan keterampilan ini, dapat berias sendiri sehingga lebih irit biaya, selain itu bagi yang berminat memperdalam ilmu, dapat melanjutkan kursus di LKP Agung. Tujuan ketiga adalah pelestarian budaya lokal. Ditengah gempuran budaya luar yang mempengaruhi tata cara berbusana ke Pura seperti budaya India dan lainnya, diharapkan masyarakat dapat menyaring dan membentengi diri sehingga identitas budaya Bali tidak tergerus perubahan atau bahkan hilang. “Budaya yang merupakan identitas Bali jangan sampai hilang karena justru budaya inilah yang membuat Bali dikenal diseluruh dunia” katanya.
Ketua WHDI Kecamatan Denpasar Barat yang juga adalah Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Pemecutan, Ibu Ida Ayu Alit Purwanasara menambahkan, dipilihnya Ibu Agung dari Salon Agung karena ketokohan dan dedikasi beliau sebagai perempuan yang telah selama 30 tahun menggeluti dunia tata rias khususnya tata rias Bali. Dalam 10 tahun terakhir, beliau pula yang merias mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono saat membuka perhelatan Pesta Kesenian Bali. “Beliau telah level RI 1 tetapi masih mau turun ke Kelurahan untuk memberikan pelatihan dalam rangka pelestarian budaya” pungkasnya.
(up)