Mengkhawatirkan, 40,22 % Kasus HIV AIDS Di Bali Tercatat Di Denpasar
Pemecutan (19/07).
Dari data yang dirilis Komisi Penanggulangan AIDS Kota Denpasar, sebanyak 3.037 kasus HIV AIDS tercatat di Kota Denpasar dari 7.551 kasus di Bali atau sekitar 40,22%. Namun demikian, Dewa Nyoman Suyetna dari Yayasan Kerti Praja mengatakan, banyak kasus yang tercatat di Denpasar karena Denpasar memiliki banyak klinik VCT (voluntary conselling test) yang memberikan layanan pemeriksaan untuk menentukan apakah seseorang mengidap HIV atau tidak. “Di Kabupaten lain, tempat test (klinik VCT) nya sedikit sehingga sedikit (temuan kasusnya) kelihatanâ€. Sampai bulan Nopember 2012 tercatat 964 direct sex worker yang ada di Bali dimana 18% nya positif HIV, lanjut pria yang sudah 20 tahun malang melintang memberikan penyuluhan kepada orang-orang yang beresiko HIV.
Hal senada diungkapkan dr. Luh Supadmi, Kepala Puskesmas I Denpasar Barat ketika keduanya menjadi narasumber dalam Sosialisasi HIV AIDS Bagi Warga Banjar, Ibu-Ibu PKK dan Pemuda yang digelar Kelurahan Pemecutan di Banjar Celagi Gendong, Minggu (14/07) lalu. “Ini (temuan kasus HIV AIDS) seperti (fenomena) gunung es. Yang kelihatan (kasusnya) sedikit, tapi dibawah banyak yang tidak kelihatanâ€. Adanya lokalisasi yang tidak resmi menyebabkan resiko penyebaran penyakit ini semakin tinggi, lanjut dokter yang memulai tugasnya sebagai kepala puskesmas sejak 2009 silam.
Keadaan ini menggugah Kelurahan Pemecutan untuk menyadarkan warganya akan bahaya HIV AIDS. Ditemui di ruang kerjanya, Kamis (18/07) kemarin, Kepala Kelurahan Pemecutan Ida Bagus Made Purwanasara,SSTP.,MSi. mengatakan pihaknya tahun ini melakukan sosialisasi HIV AIDS kepada warga banjar, ibu-ibu PKK dan pemuda di 15 Banjar yang dimiliki. “Ini kami lakukan untuk menyadarkan warga akan bahaya HIV AIDS, cara penyebaran dan penanggulangannya†ujar lulusan STPDN ini dengan tegas. Pihaknya menyadari, derasnya arus globalisasi, informasi dan teknologi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakatnya. Termasuk pula dalam pola pergaulan remaja, interaksi sosial antar keluarga maupun dilingkungan banjar. Banyak ditemui kasus kesepekang atau pengucilan ODHA yang terjadi di berbagai daerah termasuk pada jenasah ODHA. Hal ini semata-mata karena kekurangtahuan masyarakat terhadap cara penyebaran virus HIV termasuk fakta bahwa virus ini otomatis mati apabila penderitanya telah meninggal selama 4 jam. Untuk itu selain mencegah penyebaran HIV AIDS dengan memberikan informasi yang memadai, kepada masyarakat juga harus ditanamkan sikap bahwa ODHA juga manusia yang memiliki hak hidup, tidak boleh dikucilkan, justru harus dilindungi oleh komunitas masyarakat dilingkungannya.
HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang menyerang system kekebalan tubuh sehingga tubuh sangat rentan terkena berbagai penyakit sekaligus seperti kanker, muntaber, dll. Kondisi dimana berbagai penyakit menyerang tubuh inilah yang disebut AIDS (acquired immuno deficiendy syndrome). Penularan virus mematikan ini adalah melalui cairan darah, cairan sperma lak-laki dan cairan vagina serta air susu ibu. Dengan perawatan teratur, penderita AIDS (ODHA) dapat menjalani hidup normal bahkan tetap memiliki keturunan.
Sosialisasi HIV AIDS yang berlangsung di Banjar Celagi Gendong, Minggu (14/07) lalu merupakan kegiatan ke 7 dimana telah diawali di Banjar Pemedilan (08/04), Banjar Kerta Pura (14/04), Banjar Penyaitan (02/06), Banjar Busung Yeh Kauh (10/06), Banjar Merta Jaya (07/07), dan Banjar Busung Yeh Kangin (10/07). “Minggu ini (21/07) kami lanjutkan di Banjar Kerta Dharma dan bulan depan ke banjar-banjar lainnyaâ€, ujar Lurah yang baru dikaruniai anak ke dua ini mengakhiri. Kegiatan ini menggandeng Puskesmas I Denpasar Barat, KPA Kota Denpasar dan Yayasan Kerti Praja sebagai narasumber. Harapannya, masyarakat, mulai dari anggota keluarga -ayah,ibu,anak- sampai pada anggota banjar memiliki pemahaman memadai tentang pencegahan penyebaran penyakit ini serta menghapus stigma diskriminasi penderitanya.
(up)