Menu

KEMBALIKAN MAKNA PADA PAKEMNYA, KARANG TARUNA PEMECUTAN GELAR LOMBA PENJOR YADNYA ANTAR STT

  • Senin, 18 Juni 2018
  • 1514x Dilihat

Seiring perkembangan jaman, penjor yang telah dikenal oleh seluruh masyarakat Bali kini lebih tampak sebagai hiasan yang menambah mewah kesan suatu acara. Hal ini mungkin tidak masalah apabila penjor tersebut memang dibuat sebagai penjor dekorasi, tanpa ada ada ritual yang menggunakan penjor tersebut. Namun apabila penjor tersebut memang penjor untuk upacara, maka makna dari penjor dengan segala atributnya tidak boleh hilang atau tidak tampak.

 

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Karang Taruna Tunggal Ideping Sawitra Nyoman Wana Galung di sela-sela lomba penjor yadnya yang dihelat Karang Taruna pada Minggu (17/6) kemarin di areal Pura Dalem Kahyangan Badung. Lomba yang diselenggarakan serangkaian memeriahkan Pujawali Pura Dalem Kahyangan Badung ini melibatkan sekaa taruna di Kelurahan Pemecutan. Pihaknya menyampaikan, tujuan penyelenggaraan lomba ini ialah untuk mensosialisasikan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam sebuah penjor yadnya sehingga tidak hanya seolah-olah sebagai dekorasi semata.

 

Hadir sebagai juri dari Pusat Koordinasi Hindunesia Cabang Bali yang dipimpin oleh Bapak Ida Bagus Susena. Pihaknya menyampaikan dalam penjor yadnya bermakna sebagai Gunung atau Naga Basuki terdapat kelengkapan yang memiliki arti simbolis seperti sampian sebagai perlambang Parama Siwa, jajan begina dan uli perlambang Brahma, Kober putih kuning dengan Ong Kara perlambang Iswara, Cili perlambang widyadari, tamyang sebagai penolak bala, ubag abig perlambang rare angon, klukuh berisi pisang, tape, jajan sebagai perlambang Boga, tebu perlambang Shambu, palabungkah palagantung perlambang Wisnu, kelapa perlambang Rudra, busung ambu perlambang Mahadewa, plawa perlambang Sangkara, sanggah arda candra perlambang Siwa, banten perlambang Sada Siwa, lamak perlambang Tribuana, dan bamboo dibungkus kasa atau busung perlambang Mahesora. Ditambahkannya pula bahwa penilaian lomba penjor meliputi aspek satyam (kebenaran) yaitu pemahaman tentang makna, Siwam yaitu kesucian bahan yang digunakan, dan sundaram yaitu keindahan atau kreasi pembuatan penjor itu sendiri.

 

Lurah Pemecutan Ida Bagus Agung Upawana Manuaba yang hadir dalam lomba tersebut mengapresiasi langkah yang diambil oleh Karang Taruna Tunggal Ideping Sawitra. Hal ini merupakan bentuk kepedulian dari para pemuda terhadap budaya Bali yang bernafaskan Hindu. Pihaknya berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin. Kepada para peserta lomba yang terdiri dari anggota sekaa taruna, dirinya tak lupa berpesan bahwa meskipun ini adalah sebuah lomba, namun semangat yang dipupuk adalah semangat beryadnya. “Menang kalah itu biasa, jadikan ini sebagai ajang ngayah sekaligus mempererat tali persaudaraan antar pemuda banjar” pungkasnya.

 

Sebagai juara I diraih oleh STT Banjar Alangkajeng Gede, Juara II oleh STT Banjar KErandan dan Juara III STT Banjar Merta Jaya

(up)