ABJ TAK SEBANDING JUMLAH KASUS, JUMANTIK DIMINTA WASPADA
Angka Bebas Jentik (ABJ) digunakan sebagai indikator potensi terjangkitnya demam berdarah disuatu wilayah. Perhitungan ABJ dilakukan oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dengan cara membagi jumlah rumah yang bebas jentik dengan total rumah yang diperiksa. Semakin tinggi ABJ, semakin kecil kemungkinan diwilayah tersebut terjangkit kasus DBD. Semakin tinggi ABJ, berarti sedikit jumlah jentik yang diketemukan.
Namun dalam evaluasi kinerja Jumantik yang dilaksanakan Puskesmas I Denpasar Barat di Kantor Kecamatan Rabu (24/07) lalu terungkap, baru sampai Bulan Juni 2013, jumlah kasus di Kelurahan Pemecutan sudah mencapai 17 kasus dengan jumlah tertinggi di bulan April sebanyak 7 kasus. Sementara angka bebas jentiknya justru sebesar 98,53 %. Sedangkan tahun lalu (2012) jumlah kasus sebanyak 27 kasus. Hal ini menkhawatirkan banyak pihak, mulai dari para Jumantik, Puskesmas I Denpasar hingga Kepala Kelurahan Pemecutan.
Bagaimana tidak, dengan ABJ yang tinggi, berarti jumlah jentik sedikit, namun kenapa sampai terjadi banyak kasus?
Berbagai spekulasi terjadi, analisapun dilakukan. Mulai dari kemungkinan tergigit nyamuk ditempat lain. Ini dikuatkan dengan umur penderita yang dalam usia produktif yaitu rentang umur 5-14 tahun, 15 - 24 tahun dan 25 - 44 tahun masing-masing 4 penderita. Usia yang merupakan usia sekolah dan pekerja dengan mobilitas tinggi. Kemungkinan berikutnya adalah adanya jentik yang tidak diketemukan oleh Jumantik. Nyamuk memang hanya memerlukan genangan air minimal 5 mililiter untuk dapat meletakkan telur dan membiarkannya menetas menjadi jentik kemudian menjadi nyamuk dewasa. Apabila hal ini yang terjadi, Jumantik diminta agar mengintensifkan pemeriksaan untuk menemukan jentik nyamuk. Kemungkinan lain adalah ada tempat-tempat diluar rumah yang menjadi sarang nyamuk baik air got yang tergenang, sampai pada adanya sampah di tempat-tempat umum.
“Apapun penyebabnya, Jumantik harus bekerja keras menemukan jentik dan mengedukasi warga†seru dr. Supadmi. Lebih jauh Kepala Puskesmas I Denbar ini mengatakan agar Jumantik lebih intens melakukan kunjungan ke warga yang rumahnya positif jentik. Selain memberikan pembinaan, ini juga dimaksudkan untuk memberikan efek malu bagi warga yang tidak melakukan PSN. Terlebih lagi fogging tidak dapat dilakukan sembarangan. Menurut standar organisasi kesehaan dunia WHO, fogging hanya dapat dilakukan apabila ada kasus lebih dari 1 orang, telah dilakukan penyelidikan epidemologi (kemungkinan penularan) oleh jumantik dan ditemukan positif jentik. Fogging dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi. WHO juga tidak merekomendasikan adanya fogging massal karena tidak efektif dan justru meracuni warga.
Sementara itu, Kepala Kelurahan Pemecutan Ida Bagus Made Purwanasara ditemui diruang kerjanya mengatakan, pihaknya senantiasa menghimbau warga untuk melakukan PSN. “Banjar-banjar telah secara rutin melakukan gotong-royong setiap bulan†pungkasnya. Demikian pula jumat bersih yang dilaksanakan bersama tokoh masyarakat selalu menyasar tempat-tempat umum agar tidak ada sampah yang dapat menjadi sarang nyamuk. “Kedepan kita programkan jumat bersih disekitar rumah warga yang positif jentik. Sekalian kita berikan peringatan agar memberantas sarang nyamuk dilingkungannya†katanya mengakhiri.
(up)