Bila anda ditanya kenangan apa yang masih anda ingat ketika duduk di bangku SD, apa yang akan anda jawab ??
Permainan yang anda lakukan bersama teman-teman ?
Atau pelajaran yang diberikan guru ?
Ibu-ibu PKK dan kader posyandu se Kelurahan Pemecutan yang ditanya pada acara Sosialisasi Pola Asuh dan Tumbuh Kembang Anak seluruhnya menjawab “permainan bersama teman”.
Ini menunjukkan betapa pendidikan akademik diusia SD sesungguhnya belum begitu diperlukan oleh siswa sendiri. Demikian disampaikan Ida Ayu Alit Maharatni,S.Psi, MSi. yang hadir sebagai narasumber dari Cristagali pada Jumat (10/10) yang lalu.
Menurut Ibu yang juga adalah Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Pemecutan, hal ini selaras dengan pola pendidikan komprehensif dari SD hingga Perguruan Tinggi yang bahkan telah digagas oleh Ki Hajar Dewantara.
“..pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran (intelegent), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan, agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.” (Ki Hajar Dewantara)
Dalam pendidikan di SD, yang terpenting dan seharusnya memperoleh porsi paling besar adalah pendidikan karakter, sedangkan pendidikan akademik hanyalah pengenalan saja dengan porsi sangat kecil. Pada jenjang SMP, mulai diberikan pendidikan akademik, namun pendidikan karakter tetap dominan. Baru ketika anak mencapai jenjang SMA lah, porsi pendidikan akademik lebih dominan dari pendidikan karakter. Dan saat di perguruan tinggi, diharapkan karakter anak telah terbentuk sehingga pengkhususan pendidikan adalah pada bidang akademik.
Disebutkan pula bahwa tumbuh kembang karakter dimulai dari usia anak 5 tahun. Pada usia 5 – 6 tahun, anak dalam fase adab dikenalkan pada nilai benar dan salah. Sedangkan pada usia 7 – 8 tahun mulai diberikan tanggung jawab pada hal-hal kecil yang menyangkut dirinya. Pada usia 9-10 tahun, anak diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan dan orang sekitar. Ketika menginjak usia 11-12 tahun, baru diajarkan untuk mandiri. Baru semenjak usia 13 tahun keatas, diajarkan untuk bermasyarakat menerapkan apa yang telah diajarkan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kegiatan Sosialisasi Pola Asuh dan Tumbuh Kembang Anak ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat khususnya pada ibu untuk paham kondisi psikologis anak sehingga pola pendidikan dan pengasuhan yang dilakukan dapat lebih tepat guna mencetak generasi yang berkarakter baik.
(up)